Makalah Rumah Sakit

Minggu, 16 Desember 2012

Micro Teaching


TEORI MICRO TEACHING 

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling berinteraksi dan bekerjasama dalam mencapai tujuan pembela-jaran. Oleh karena itu agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik, semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran harus diorganisasikan sebaik mungkin dalam format perencanaan yang matang, sehingga ketika proses pembe-lajaran berlangsung seminimal mungkin terjadi kesalahan yang disebabkan penem-patan atau pemilihan komponen yang kurang tepat.
Sebagai seorang pendidik, salah satu tugas utama adalah menyusun strategi pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Strategi adalah suatu cara untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Bila kata strategi dihubungkan dengan pembelajaran, maka diartikan sebagai suatu cara yang dilakukan pendidik dalam proses pembelajaran sebagai usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian semua tindakan pendidik apapun bentuknya yang berkaitan dengan usahanya menuju keberhasilan pembelajaran termasuk strategi pembelajaran.
Salah satu strategi pembelajaran yang sangat penting untuk dilakukan pendidik adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas. Seorang pendidik yang mengajar tanpa persiapan dapat diibaratkan seperti orang yang ingin berjalan-jalan ke suatu tempat tetapi tidak mengetahui bagaimana cara untuk sampai ke tempat tersebut dan apa saja yang dibutuhkan dalam perjalanan. Tentu saja bisa sampai ke tempat yang dituju, tetapi kemungkinan waktu yang diperlu-kan lebih lama, karena banyak halangan di jalan yang tidak siap diantisipasi sebelum-nya, misalnya ternyata di tengah jalan hujan padahal tidak membawa payung atau haus padahal tidak membawa minum, dan sebagainya. Selain itu karena tidak tahu jalannya, kemungkinan banyak bertanya bahkan mungkin tersesat.
Seperti itulah gambaran seorang pendidik yang tidak memiliki kesiapan dalam pembelajaran. Mengajar sekedar menyampaikan apa yang terdapat dalam buku pegangan  kepada  peserta  didik  tanpa disertai perencanaan, baik yang berkaitan de-








*  Makalah disampaikan dalam Bimbingan Teknis Tenaga Pelatih Konservasi dan Pemugaran, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur,  pada tanggal 19 Mei 2011 di Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.
** Dosen Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY

 
 



ngan penerapan suatu metode, penggunaan media, pemberian penguatan, evaluasi proses, maupun segala hal yang seharusnya diorganisasikan dalam bentuk perenca-naan pembelajaran. Demikian pentingnya persiapan dan perencanaan pembelajaran, sehingga bila seorang pendidik tidak menguasai cara-cara persiapan dan perencanaan pembelajaran yang baik, sudah dapat dipastikan bahwa pembelajaran yang dilakukan tidak akan berhasil secara optimal.
Berdasarkan hal tersebut, maka penting bagi seorang pendidik untuk menda-patkan bekal yang memadai agar dapat menguasai sejumlah kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh seorang pendidik, baik melalui pelatihan maupun bimbingan, yang dikemas dalam bentuk workshop maupun TOT, melalui preservice maupun inservice training. Salah satu bentuk preservice training bagi pendidik adalah melalui pembentukan kemampuan mengajar (teaching skill), baik secara teoretis maupun praktik. Secara praktik, bekal kemampuan mengajar dapat dilatihkan melalui kegiatan micro teaching atau pengajaran micro. Apakah micro teaching itu, apa manfaat micro teaching bagi seorang calon pendidik, kompetensi apa saja yang harus diberikan kepada calon pendidik dalam micro teaching agar mereka benar-benar dapat menjadi pendidik yang profesional, dan bagaimana pelatihan micro teaching dilakukan ? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, maka pada kesempatan kali ini marilah kita sharing dan bahas bersama.

APAKAH MICRO TEACHING ITU?
            Micro teaching atau pengajaran mikro adalah pelatihan tahap awal dalam pembentukan kompetensi mengajar melalui pengaktualisasian kompetensi dasar mengajar (Unit PPL UNY, 2007: 3). Pada dasarnya pengajaran mikro merupakan suatu metode pembelajaran berdasarkan performa yang tekniknya dilakukan dengan cara melatihkan komponen-komponen kompetensi dasar mengajar dalam proses pembela-jaran, sehingga calon pendidik benar-benar mampu menguasai setiap komponen satu persatu atau beberapa komponen secara terpadu dalam situasi pembelajaran yang disederhanakan.
            Bagian terpenting micro teaching adalah praktik mengajar sebagai bentuk nyata ditampilkannya kompetensi yang telah dibekalkan kepada calon pendidik. Pada umum-nya praktik micro teaching dilakukan dengan model peerteaching, karena model ini fleksibel dilaksanakan sebelum melakukan real-teaching dalam kelas yang sesungguh-nya. Dalam micro teaching calon pendidik dapat berlatih unjuk kompetensi dasar meng ajar secara terbatas dan secara terpadu dari beberapa kompetensi dasar mengajar dengan kompetensi (tujuan), materi, peserta didik, dan waktu yang relatif dibatasi (di-mikrokan). Micro teaching merupakan sarana latihan untuk berani tampil menghadapi kelas dengan peserta didik yang beraneka ragam karakternya, mengendalikan emosi, ritme pembicaraan, mengelola kelas agar kondusif untuk proses transfer ilmu, dan lain-lain, Praktik micro teaching dilakukan sampai calon pendidik dianggap sudah cukup memadai untuk diterjunkan dalam praktik yang sesungguhnya.

APA MANFAATNYA MICRO TEACHING BAGI SEORANG PENDIDIK
            Micro teaching yang dilatihkan secara intensif kepada calon pendidik, memiliki banyak manfaat diantaranya calon pendidik menjadi:
1.    peka terhadap fenomena yang terjadi di dalam proses pembelajaran ketika mereka menjadi kolaborator yang mengkritisi teman yang tampil praktik mengajar;
2.    lebih siap untuk melakaukan kegiatan praktik pembelajaran di sekolah/lembaga; 
3.    dapat menilai kekurangan yang ada dalam dirinya yang berkaitan dengan kompe-tensi dasar mengajar melalui refleksi diri setelah praktik ke depan; dan
4.    sadar bagaimana membentuk profil pendidik yang baik ditinjau dari kompetensi, performance (penampilan), attitude (sikap), dan perilaku.

Melalui micro teaching, seorang calon pendidik akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, karena telah dilatih secara baik dan dibekali kompetensi demi kompetensi, baik secara terpisah maupun terpadu dalam satu kesatuan proses pembelajaran.

KOMPETENSI DASAR MENGAJAR
Kompetensi adalah pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu ke-mampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat diamati dan diukur (Mukminan, 2003: 2). Hal ini berarti orang yang memiliki kompetensi berarti ia memiliki kemampuan yang dapat diamati dan diukur oleh orang lain.
Mengajar adalah memberi pelajaran kepada peserta didik yang sedang belajar (Hardaniwati, dkk., 2003: 8). Jika sistem pendidikan kita sebelumnya menganggap peserta didik hanya sebagai objek belajar, maka saat ini sudah terjadi pergeseran dari teacher centered (pembelajaran berpusat pada pendidik) menjadi student centered  (pem-belajaran berpusat pada peserta didik), artinya peserta didik tidak lagi sebagai objek tetapi sebagai subjek belajar. Kata pengajaran juga sudah tidak digunakan lagi diganti dengan istilah pembelajaran yang lebih bermakna terjadinya interaksi dua arah, yaitu pendidik ke siswa dan sebaliknya. Dengan kata lain, pendidik hanya sebagai fasilitator dan motivator di dalam proses perolehan konsep bagi peserta didiknya. 
Dengan bergesernya paradigma pendidikan tersebut, maka kompetensi dasar mengajar yang harus dikuasai oleh calon pendidiknya menjadi lebih diperkaya dengan berbagai kompetensi penguasaan metode pembelajaran yang mampu mengaktifkan peserta didik. Demikian pula dalam kompetensi dasar lainnya, calon pendidik diharap-kan lebih kreatif dan inovatif ketika mengajar, agar kelas menjadi lebih hidup.
Kompetensi dasar mengajar dalam micro teaching merupakan kemampuan minimal yang harus dicapai oleh calon pendidik yang meliputi: memahami dasar-dasar micro teaching, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mempraktik-kan keterampilan dasar mengajar terbatas dan terpadu, dan mengevaluasi praktik micro teaching. Calon pendidik harus memahami dasar-dasar micro teaching, seperti pengertian dan manfaat baginya sebelum menjadi pendidik yang sesungguhnya.
1.  Penyusunan RPP
Setiap orang jika akan melakukan suatu aktivitas, maka akan berhasil dengan baik jika aktivitas tersebut direncanakan terlebih dahulu secara matang. Demikian juga dalam melaksanakan proses pembelajaran, calon pendidik seharusnya merencanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya, agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan tercapai dengan baik. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh calon pendidik, tetapi juga oleh pendidik yang sudah lama mengajar.
RPP disusun agar calon pendidik dalam melaksanakan pembelajaran teren-cana dengan baik, karena melalui RPP mereka dapat menuangkan berbagai metode atau model pembelajaran baru sesuai dengan karakteristik materi yang akan disampai-kan dan karakter peserta didik. Hal ini karena dalam RPP terkandung berbagai perencanaan, mulai dari tujuan pembelajaran yang akan dicapai, metode pembelajaran yang akan diterapkan, apersepsi yang akan dilakukan di awal mengajar, sampai pada langkah-langkah pembelajaran dan penilaian yang akan dilakukan.
Dapat kita bayangkan bagaimana kacaunya seorang pendidik ketika mengajar tanpa persiapan sama sekali, meskipun dia merupakan pendidik yang sudah berpe-ngalaman. Sebanyak apapun pengalaman seorang pendidik, tetap penting untuk sedikit membuka buku dan mempersiapkan apa saja yang akan dilakukan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan esok harinya. Terlebih lagi jika pendidik sudah menyusun RPP, maka harus benar-benar dimanfaatkan sebagai pegangan atau acuan dalam mengajar untuk setiap tatap muka.
RPP sangat besar manfaatnya bagi pendidik, karena dalam merancang dan menyusun RPP pendidik diharapkan dapat menerapkan berbagai metode pembela-jaran baru yang mungkin sesuai dan tepat digunakan untuk menyampaikan materi, sehingga dapat membantu anak didik dalam menguasai materi tersebut. Selain menerapkan metode baru, dalam RPP juga dapat dirancang pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dalam bentuk permainan maupun selingan menarik lainnya, sehingga peserta didik termotivasi dan semangat mengikuti pelajaran.
Dalam menyusun RPP pendidik harus mencantumkan identitas yang meliputi materi/topik yang akan disampaikan dan alokasi waktu. Secara rinci RPP harus memu-at tujuan, materi, metode, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian yang akan dilakukan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran adalah penunjuk keberhasilan belajar peserta didik yang akan dievaluasi di akhir pembelajaran (penyampaian materi). Berdasarkan tujuan inilah kemudian dapat dirumuskan soal-soal untuk melihat ketercapaiannya. Materi pembela-jaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode adalah cara yang tersusun dan teratur yang digunakan untuk mencapai tujuan, sedangkan pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang berupaya membe-lajarkan anak didik  Jadi, metode pembelajaran adalah proses kegiatan membelajarkan anak didik dengan menyajikan materi pelajaran kepada peserta didik secara tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu (Atwi, 1993).
Ada berbagai metode pembelajaran yang biasa digunakan pendidik, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, tugas, demonstrasi, praktik, pemecahan masalah, dan lain-lain. Baik buruknya suatu metode pembelajaran sangat tergantung kecakapan pendidik dalam memilih dan menggunakan metode tersebut (Pasaribu dan Simanjuntak, 1983). Pengguna metode memberi warna dan nilai pada metode yang digunakan. Penggunaan metode yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar anak didik. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa keunggulan pembelajaran di Jepang terutama disebabkan oleh salah satunya peranan pendidik yang mampu memilih metode pembelajaran (Aleks Masyunis, 2000).
Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan pembelajaran terdiri dari unsur kegi-atan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Akan tetapi, dimung-kinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Sumber belajar menca-kup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan.
Komponen terakhir dalam RPP adalah penilaian yang meliputi teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Baik teknik maupun bentuk instrumen dipilih tergantung karakteristik materi, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, dan pertimbangan waktu.  
            Uraian rincian RPP tersebut adalah RPP secara umum untuk para calon pendidik/instruktur yang tidak berhadapan dengan peserta didik di tingkat SD, SMP, atau SMA, karena untuk pendidik (guru) di tingkat sekolah tersebut memiliki format RPP yang baku yang mengacu pada kurikulum yang berlaku. Namun sebenarnya yang terpenting bukan formatnya, tetapi pada makna RPP tersebut sebagai pedoman renca-na seseorang yang akan mengajar orang lain agar dapat berhasil dengan baik. 

2.  Keterampilan Dasar Mengajar Terbatas
Disebut terbatas karena terdiri atas berbagai keterampilan dasar mengajar yang terkait erat dengan faktor teknik mengajar. Keterampilan ini harus dimiliki dan dikuasai oleh calon pendidik. Adapun yang termasuk keterampilan dasar mengajar terbatas adalah:
a. Keterampilan Membuka Pelajaran
            Keterampilan membuka pelajaran dimaksudkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan peserta didik siap secara mental dan penuh perha-tian untuk memulai mengikuti pembelajaran. Pendidik harus mampu menarik perhatian dan memotivasi peserta didik agar segera siap memperhatikan materi yang akan dibicarakan pada pertemuan tersebut.
            Jika ada pepatah “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”, maka pada keterampilan membuka pelajaran ini pendidik harus dapat memberi kesan yang “menggoda” agar peserta didik “terperangah” dan “terpaku” seperti terkena magnet dan sihir dari sang pendidik.
            Kegiatan membuka pelajaran yang umum berupa berdoa, presensi dan mena-nyakan peserta didik yang tidak hadir, mengemukakan topik hari itu, mengaitkan topik dengan kehidupan sehari-hari atau dengan topik pertemuan sebelumnya. Jika membu-ka pelajaran hanya demikian terus menerus, maka lama-kelamaan peserta didik bosan dan sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan.
Oleh karena itu tugas pendidik untuk mencari trik atau kiat-kiat untuk dapat menghidupkan suasana di awal pembelajaran, misalkan membawa media atau sesu-atu yang nampak ganjil di mata anak didik tetapi ada kaitannya dengan topik hari itu, atau bercerita sesuatu yang aktual yang berkaitan dengan topik, atau tiba-tiba kita memberi kejutan “bernyanyi” dari suatu lagu terkenal yang syairnya diganti dengan isi materi yang akan diajarkan. Semua itu tergantung kreativitas kita, tetapi harus diingat kesan pertama ini pasti membekas di hati anak didik, jadi usaha “mati-matian” harus kita lakukan. Ketertarikan peserta didik akan membawa pengaruh positif pada kelan-caran proses pembelajaran dan pembangkitan minat dan motivasi belajar mereka.      
b. Keterampilan Menjelaskan
            Menjelaskan merupakan keterampilan memberikan informasi yang diorganisasi secara sistematis kepada peserta didik. Keterampilan ini harus dimiliki calon pendidik, karena dengan keterampilan menjelaskan yang baik dapat membantu peserta didik memahami dengan jelas semua materi yang dipelajari, permasalahan yang berkaitan dengan materi, melibatkan anak didik dalam berpikir, dan mendapatkan balikan yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik.
            Keterampilan ini hanya dapat dimiliki calon pendidik jika ia menguasai materi dengan baik, pandai berkomunikasi lisan dengan penguasaan bahasa yang baik dan benar, sehingga bahasa mudah dipahami dan tidak berbelit-belit, dan piawai dalam mencari analogi atau ilustrasi terhadap konsep yang abstrak yang akan diajarkan.
            Selain itu, modal terpenting yang harus dimiliki calon pendidik agar dapat menjelaskan dengan baik adalah vokal atau suara yang jelas dengan volume yang memadai dan intonasi bervariasi Volume suara memegang peranan penting dalam keberhasilan menjelaskan karena volume suara yang keras mampu membangkitkan otak untuk merespon suara akibat perintah syaraf yang terdapat dalam telinga.
Penelitian yang dilakukan Lynch (1989: 37) menyatakan bahwa faktor bahasa mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam membangun konsep, seperti bagai-mana menggunakan kata penghubung yang bersifat logis, ragam bentuk bunyi, makna, struktur, dan konteks kata. Penelitian serupa dilakukan oleh Beek & Louters (1991: 391) yang hasilnya dari 234 maha(siswa) menunjukkan rerata skor masalah dalam menyelesaikan tes yang diberikan pengajar yang berkaitan dengan bahasa sebesar 87% dan 84%, artinya sumber utama kesulitan maha(siswa) dalam memahami konsep terletak pada penggunaan bahasa. 
            Jadi, keterampilan menjelaskan menuntut calon pendidik untuk pandai memilih bahasa sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik dan pandai menca-rikan jalan keluar peserta didik untuk memperjelas konsep-konsep yang abstrak dan sulit dimengerti, misalnya dengan analogi dan ilustrasi.

c. Keterampilan Memberikan Penguatan
            Penguatan (reinforcement) adalah tanggapan pendidik terhadap perilaku peser-ta didik yang memungkinkan dapat membesarkan hati mereka agar lebih terpacu dan termotivasi dalam interaksi belajar-mengajar. Tujuan keterampilan ini adalah untuk menumbuhkan perhatian, memelihara motivasi, memudahkan belajar, dan meminimal-kan perilaku negatif dan mendorong tumbuhnya perilaku positif peserta didik. Pengu-atan diberikan oleh pendidik sebagai penghargaan atas respon yang diberikan anak didik terhadap pertanyaan atau hasil kerja mereka dengan harapan dapat mening-katkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku positif tersebut.
            Bentuk penguatan yang diberikan dapat berupa verbal (kata-kata), non verbal (mimik muka, gerak badan), dan simbol/benda. Bentuk penguatan dipilih berdasarkan tahap perkembangan peserta didik. Penguatan akan bermakna jika disampaikan seca-ra antusias, hangat, ikhlas, diberikan seketika (tidak ditunda), dan tidak berlebihan.

d. Keterampilan Menggunakan Media dan Alat Pembelajaran    
Media berasal dari bahasa Latin medium yang berarti perantara atau penyalur. Menurut Yusufhadi Miarso (1984) media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri mereka yang belajar. Media yang menarik tentunya sangat membantu dalam pemahaman suatu materi pelajaran, karena sesuatu yang menarik dapat menimbulkan minat peserta didik, meningkatkan aktivitas berpikir, dan mempertinggi daya ingat. 
Menurut Edgar Dale, pengalaman belajar manusia itu 75% diperoleh melalui indera penglihatan, 13% melalui indera pendengaran, dan 12 % melalui indera lainnya. Pendapat ini memberikan arti bahwa pembelajaran dengan alat bantu (media) selain dapat menarik perhatian peserta juga sekaligus meningkatkan pemahaman karena melibatkan indera penglihatan (Oemar Hamalik, 1994 : 53).
Keterampilan menggunakan media dan alat pembelajaran sangat diperlukan agar mempermudah peserta didik memahami materi, membantu mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak, dan materi tersimpan lebih lama dalam ingatan karena mereka menggunakan indera penglihatan ketika belajar. Sebagai pendidik di era global saat ini, maka dituntut memiliki kreativitas yang tinggi dalam menciptakan media dan alat pembelajaran sendiri, tanpa harus menunggu ketersediaan fasilitas. Media yang baik adalah yang tepat guna, artinya sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran dan berdaya guna dalam memotivasi peserta didik lebih keras lagi.

e. Keterampilan Menyusun Skenario Pembelajaran
RPP merupakan semacam skenario jika seseorang akan melakonkan sesuatu peran. Memang seorang pendidik tidak ubahnya seperti aktor atau aktris yang sedang memerankan suatu adegan. Bila aktor harus menghayati peran yang diberikan pada-nya, maka pendidik harus dapat menguasai materi yang akan disampaikan di kelas. Peserta didik dapat diibaratkan sebagai penonton yang akan bersorak, bertepuk tangan, dan tertegun bila pendidik sebagai aktor dapat berperan baik dalam proses pembelajarannya, tetapi sebaliknya akan berseru “huu” dan malas memperhatikan bila pendidik jelek dalam berperan. Disinilah letak mengapa seorang pendidik harus dapat menarik perhatian peserta didik, sebab dialah aktor di kelas. Meskipun dalam kuri-kulum baru peserta didik yang harus aktif dan dominan, tetapi peran pendidik harus tetap menarik kalau ingin pembelajarannya berhasil. 
Adanya skenario pembelajaran sangat membantu pendidik dalam merancang dan mempersiapkan pembelajaran secara lebih baik, sehingga pembelajaran benar-benar efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Meskipun menyusun skenario telah dilakukan oleh hampir seluruh pendidik, tetapi pada kenyata-annya banyak diantara mereka tidak benar-benar menggunakannya sebagai pegangan atau acuan/rujukan ketika mengajar. Skenario hanya dipandang sebagai kewajiban administrasi dan formalitas ketika ada tinjauan dan monitoring dari penilik atau pengawas sekolah. Padahal skenario merupakan sebuah rencana teknis yang mutlak diperlukan untuk menunjang kelancaran pembelajaran di kelas.

f. Keterampilan Mengadakan Variasi
            Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan yang dilakukan pendi-dik dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi gaya mengajar, penggunaan media pembelajaran, pola interaksi dengan peserta didik, dan stimulasi. Keterampilan ini sa-ngat perlu dimiliki pendidik untuk menghilangkan kebosanan peserta didik bila selalu melihat, merasakan, mengalami sesuatu yang sama secara berulang dan terus mene-rus. Dengan variasi mengajar dimaksudkan agar perhatian dan konsentrasi peserta didik kembali pada pelajaran dengan memunculkan sesuatu yang baru bagi mereka, pembelajaran lebih hidup, menarik, dan menyenangkan.
            Variasi dalam gaya mengajar diantaranya variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyaapan, kontak pandang, gerakan badan dan mimik, dan pergantian posisi guru. Variasi media pembelajaran, seperti media yang dapat dilihat, didengar, diraba, dibau, dirasa, dan alat peraga yang dapat dimanipulasi, baik media yang tersedia maupun buatan/kreasi sendiri. Variasi pola interaksi dilakukan dengan meningkatkan intensitas interaksi pendidik – peserta didik dan interaksi antar peserta didik. Variasi stimulasi berupa motivasi pada berbagai aktivitas pembelajaran.    

g. Keterampilan Membimbing Diskusi
            Diskusi adalah suatu proses interaksi verbal secara teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan tujuan berbagi pengalaman atau informasi, mengonstruksi konsep, mengambil suatu keputusan, atau memecahkan masalah. Seorang calon pendidik harus memiliki keterampilan membim-bing diskusi kelompok, agar diskusi menjadi terarah, sehingga tujuan diskusi tercapai secara efisien dan efektif.
            Selama ini sering terjadi pendidik hanya memberi masalah untuk didiskusikan lalu meninggalkan begitu saja anak didik untuk berdiskusi. Padahal harusnya pendidik membantu memusatkan perhatian, memperjelas masalah, menganalisis pandangan peserta didik, meningkatkan partisipasi berpendapat, dan menutup diskusi dengan simpulan. Selain itu agar diskusi benar-benar tepat guna, maka topik diskusi harus dipersiapkan agar relevan dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

h. Keterampilan Mengelola Kelas    
            Mengelola kelas adalah menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal bagi peserta didik dan mengembalikan ke kondisi belajar yang optimal apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, mengelola kelas berarti mengkondisikan kelas sedemikian rupa dan meminimalkan gangguan perilaku peserta didik agar kondusif untuk belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
            Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan pendidik untuk berinisiatif dan mengendalikan kegiatan pembelajaran sedemikian rupa, sehingga pembelajaran ber-jalan secara optimal, efisien, dan efektif. Keterampilan yang perlu dikuasai antara lain: menunjukkan sikap tanggap, membagi perhatian, memusatkan perhatian kelompok, menuntut tanggung jawab, memberikan petunjuk yang jelas, menegur, dan membe-rikan penguatan. Semua bentuk pengelolaan kelas akan berhasil jika dilakukan dengan kehangatan, antusias, luwes, ramah, dan penuh perhatian yang tulus. Perlu dihindari pengelolaan yang berlebihan, tidak pada tempatnya, bertele-tele, dan pengulangan penjelasan yang tidak perlu.

i. Keterampilan Bertanya
            Bertanya merupakan salah satu aktivitas pendidik ketika sedang mengajar. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan dasar maupun pertanyaan lanjut. Pengajuan per-tanyaan oleh pendidik dimaksudkan untuk mengurangi dominasi pendidik, mendorong keberanian peserta didik berpendapat, meningkatkan partisipasi dan kemampuan berpikir peserta didik.
            Dalam mengajukan pertanyaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti: pertanyaan harus jelas, memancing pendapat/keaktifan, penyebaran sasaran yang ditanya, pemberian waktu berpikir (waktu tenggang), peningkatan kualitas perta-nyaan, dan penggunaan pertanyaan pelacak. Prinsip pengajuan pertanyaan, yaitu kehangatan dan antusias dalam bertanya, menghindari pengulangan jawaban peserta didik, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang memancing jawab-an serentak, pertanyaan ganda, menunjuk peserta didik sebelum pertanyaan diajukan, memberikan pertanyaan sulit kepada anak didik yang kurang pandai. Selain itu setiap jawaban peserta didik harus ditanggapi dengan baik, tidak dijatuhkan atau dipermalu-kan yang hanya membuat jera anak didik tersebut dalam menjawab.

j. Keterampilan Mengevaluasi 
Siapapun yang melakukan tugas mengajar, perlu mengetahui akibat dari peker-jaannya. Pendidik harus mengetahui sejauhmana peserta didik telah menyerap dan menguasai materi yang telah diajarkan. Sebaliknya, peserta didik juga membutuhkan informasi tentang hasil pekerjaannya. Hal ini hanya dapat diketahui jika seorang pendidik melakukan evaluasi. Sebelum melakukan evaluasi, maka guru harus melaku-kan penilaian yang didahului dengan pengukuran.
Pengukuran hasil belajar adalah cara pengumpulan informasi yang hasilnya dapat dinyatakan dalam bentuk angka yang disebut skor. Penilaian hasil belajar adalah cara menginterpretasikan skor yang diperoleh dari pengukuran dengan mengubahnya menjadi nilai dengan prosedur tertentu dan menggunakannya untuk mengambil keputusan. Jadi penilaian sudah mencakup pengukuran hasil belajar.
Evaluasi memiliki arti yang lebih luas dari penilaian, yaitu penggunaan hasil penilaian untuk mengambil keputusan, seperti untuk menentukan kelulusan, penem-patan, penjurusan, dan perbaikan program. Jadi, evaluasi mencakup penilaian sekaligus pengukuran, namun alat evaluasi sering disebut juga alat penilaian.
Menurut Cizek (2000: 16), evaluasi adalah suatu proses penentuan nilai atau harga dengan mempertimbangkan hasil observasi atau koleksi data yang diperoleh. Pengertian evaluasi yang sederhana disampaikan oleh Sudiyono (1998: 8), yaitu evaluasi dipandang sebagai kegiatan atau proses untuk mengukur dan selanjutnya menilai sejauhmana tujuan yang telah ditetapkan sudah dapat dilaksanakan.
            Seorang pendidik harus menguasai keterampilan membuat dan mengembang-kan instrumen evaluasi/penilaian (tes maupun non tes), memilih bentuk instrumen yang tepat, melakukan evaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan memberikan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi.

k. Keterampilan Menutup Pelajaran
            Merupakan kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mengakhiri kegiatan inti pembelajaran. Menutup pelalajaran dapat dilakukan dengan merangkum inti materi yang telah disampaikan dengan cara tanya jawab dengan peserta didik atau membuat ringkasan, mengevaluasi, memberi tugas yang sesuai, bermakna, dan bermanfaat.
Ketika menutup pelajaran hendaknya tidak monoton. Hal ini karena meskipun hanya menutup pembelajaran, tetapi sebenarnya langkah ini merupakan kunci keberhasilan pendidik memotivasi peserta didik untuk ”rindu” dan ingin berjumpa dengan pendidik dan mata pelajarannya. Oleh karena itu, penutup jangan hanya diisi dengan kegiatan biasa (PR, tanya jawab, simpulan), tetapi cobalah memberikan aktivitas yang menyenangkan, sehingga anak didik terkesan dan menunggu kehadiran kita di pertemuan berikutnya. Layaknya sinetron yang berhenti pada cerita yang menggantung dan membuat penasaran, maka dalam menutup pembelajaranpun pendidik hendaknya melakukan hal demikian. Buatlah anak didik senang, gembira, terkesan, dan ingin bertemu lagi dengan kita.

2.  Keterampilan Dasar Mengajar Terpadu
Keterampilan dengan melatihkan berbagai keterampilan kepada calon pendidik pada saat praktik pengajaran mikro yang merupakan bentuk lanjut keterampilan dasar mengajar terbatasyang dipilih dan ditentukan berdasarkan urgensinya pada penga-jaran mikro. Kata terpadu menunjukkan bentuk perpaduan dari beberapa keterampilan mengajar, mulai dari keterampilan menyusun RPP sampai keterampilan proses pem-belajaran (praktik). Jadi, pada keterampilan dasar terpadu seorang calon pendidik diamati mulai dari kebenaran RPP yang disusun, penampilan ketika mengajar, kepia-waian menggunakan bahasa, sampai pada volume dan intonasi suara.

HAL-HAL YANG HARUS DIKETAHUI PENDIDIK SEBELUM MENGAJAR   
Sebelum mengajar, seorang pendidik perlu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelancaran pembelajaran yang akan dilaksanakan. Namun sebelum mempersiapkan, banyak hal yang harus diketahui pendidik agar persiapan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan dihadapi, baik yang menyangkut kondisi peserta didik, sarana prasarana sekolah, keadaan kelas, lingkungan sekolah, dan lain-lain.
1. Kondisi Peserta didik
            Informasi tentang kondisi peserta didik sangat diperlukan pendidik, karena bagaimanapun yang menjadi objek sekaligus subjek belajar adalah peserta didik. Hal ini berarti sebelum mengajar pendidik harus mengetahui terlebih dahulu tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi peserta didik, agar perencanaan yang disusun benar-benar tepat sasaran. Beberapa kondisi peserta didik yang harus diketahui pendidik sebagai entering behavior (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 1997 : 12-13) antara lain: tingkat kecerdasan (IQ), tingkat kematangan (maturation), tingkat penguasaan (mastery), tingkat kecerdasan emosional (EQ), motivasi dan minat belajar, latar belakang sosial-ekonomi, konsep diri, dan sikap
Sebenarnya kita dapat menyebutkan lebih banyak lagi, namun kedelapan hal inilah yang relatif dominan untuk diperhatikan ketika pendidik akan merencanakan pembelajaran. Dengan mengetahui rerata tingkat kecerdasan peserta didik yang akan diberi pelajaran, maka kita dapat menyiapkan materi dengan keluasan dan kedalaman yang sesuai. Demikian pula dengan mengetahui rerata motivasi dan minat belajar peserta didik, pendidik dapat mempersiapkan metode yang sesuai. Semua hal yang berkaitan dengan kondisi peserta didik sangat bermanfaat dalam perencanaan pembelajaran, karena tentunya tidak mungkin kita membuat perencanaan yang muluk-muluk tetapi ternyata tidak dapat dilaksanakan lantaran tidak sesuai dengan karakteristik peserta didik yang akan diajar.  

2. Sarana Prasarana Sekolah
Informasi tentang apa saja sarana prasarana yang tersedia di sekolah tempat kita mengajar sangat penting diketahui, agar bila pendidik ingin menerapkan suatu metode atau ingin menggunakan media, atau memberikan tugas kepada peserta didik dapat menyesu aikan dengan kondisi sarana prasarana yang tersedia. Jangan sampai pendidik memberikan tugas kepada peserta didiknya untuk kaji pustaka, tetapi ternyata perpustakaan yang tersedia tidak memiliki buku yang harus dikaji.
Tidak semua pendidik mampu menciptakan berbagai sumber belajar sederhana yang dapat diperoleh dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, karena mencipta-kan sesuatu yang baru yang dapat menjadi sumber belajar bukan pekerjaan yang mudah, tetapi pendidik dituntut untuk banyak menggali kemampuan diri atau mengembangkan profesionalismenya. Mungkin dengan sharing sesama teman yang satu bidang studi, atau banyak membaca buku dan membuka internet mereka dapat menemukannya. Kurikulum 2004 memang berharap agar pendidik mampu mengikuti perkembangan IPTEK, sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik.

3. Keadaan Kelas
Keadaan kelas yang dimaksud meliputi jumlah peserta didik dalam kelas dan fasilitas yang ada dalam kelas, seperti papan tulis, meja, kursi, ventilasi, dan lain-lain. Mengapa keadaan kelas juga perlu diketahui pendidik sebelum mengajar ? Keadaan kelas sangat mempengaruhi konsentrasi belajar peserta didik. Coba kita bayangkan, bila ada ruang kelas sempit dengan jumlah peserta didik yang berjubel, sedangkan ventilasi tidak ada, papan tulis masih menggunakan kapur tulis, maka baik pendidik maupun peserta didik pasti sangat tidak nyaman dalam proses pembelajaran. Keadaan seperti ini perlu dipikirkan pendidik untuk mencari atau menemukan ide yang dapat mengubah suasana kelas menjadi menye-nangkan bagi peserta didik. Jangan sampai suasana kelas yang panas, gerah, penuh debu kapur beterbangan, sumpek, ditambah dengan pembelajaran yang monoton dan tidak menarik, akan menambah sumpek dan tidak kerasan peserta didik di kelas.
Salah satu cara mengatasi keadaan seperti itu mungkin pendidik merencana-kan pembelajaran yang banyak mengajak peserta didik beraktivitas di luar kelas. Suasana yang berbeda akan dapat menarik perhatian peserta didik. Dapat pula pembelajaran tetap di kelas, tetapi peserta didik sering diajak belajar sambil bermain, atau ceramah diselingi humor yang dapat menghidupkan suasana, sehingga peserta didik lupa dengan kepenatan di  kelas.

4. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah di sini tidak terbatas pada keadaan halaman, lapangan, atau taman yang ada di sekolah, tetapi juga mencakup bagaimana interaksi peserta didik dengan pendidik, Kepala Sekolah, karyawan, maupun peserta didik dengan peserta didik lainnya. Mengenai lingkungan yang berkaitan dengan keindahan, meru-pakan faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik meskipun tidak secara langsung. Hal ini karena halaman yang asri, taman yang indah dilihat mata akan memberikan dampak positif kepada peserta didik, setidaknya mereka menjadi betah di sekolah. Hubungan antar sesama insan yang berada di sekolah sangat membantu kenyamanan peserta didik di sekolah. Informasi mengenai siapa peserta didik yang mudah atau sulit bergaul sangat diperlukan pendidik ketika mereka mengalami masalah.

PENUTUP
Di dunia ini tidak ada sesuatu datang tiba-tiba dalam kehidupan seseorang. Demikian pula untuk dapat menjadi seorang pendidik atau instruktur yang baik dan profesional, tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi perlu usaha keras untuk mencapainya. Melalui micro teaching diharapkan keprofesionalan seorang calon pendidik akan terbentuk perlahan-lahan dengan berbagai latihan/praktik dan pembe-kalan berbagai keterampilan dasar mengajar. Dengan penuh kesabaran dalam mem-praktikkan keterampilan demi keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai oleh seorang calon pendidik, diharapkan keprofesionalan sebagai pendidik akan terbentuk dengan baik sampai pada praktik yang sesungguhnya. Semua hal yang belum terbiasa akan terasa berat dijalani, namun seiring berjalannya waktu keprofesionalan kita seba-gai pendidik akan mulai mengisi sanubari kita hingga mendarah daging dalam tubuh yang tertampilkan dalam performance pendidik yang pantas diteladani. Hidup ini penuh pilihan, semoga pilihan kita sebagai pendidik adalah pilihan yang tepat untuk masuk surga (Amiiin). 

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2007). Panduan Pengajaran Mikro. Yogyakarta: UPPL – UNY.

Aleks Masyunis. (2000). Strategi Kualitas Pendidikan MIPA di LPTK. Makalah pada Seminar Nasional FMIPA UNY tanggal 22 Agustus 2000.

Atwi Suparman. (1993). Desain Instruksional. Jakarta: PAU – UT.

Beek, K. V. & Louters, L. (1991). Chemical language skills, investigating the deficit. Journal of Chemical Education, 68(5), 389-392.

Cizek, G. J. (2000). Pockets of Resistance in the Assessment Revolution, Educational Measurement : Issues and Practice. Summer 2000. Volum 19, Number 2.

Hardaniwati, M., dkk. (2003). Kamus Pelajar. Jakarta: Pusat bahasa, Depdiknas.

Lynch, Patrick. (1989). Language and communication in the science classroom. Journal of Science and Mathematics Education in S. E. Asia, XII(2), 33-41.

 

Mukminan. (2003). Pengembangan Silabus Matakuliah Pengajaran Mikro bdan PPL Berdasarkan KBK. Makalah Seminar dan Lokakarya. Yogyakarta: UPPL - UNY.

Oemar Hamalik. (1994). Media Pendidikan. Jakarta: Alumni.

Pasaribu dan Simanjuntak. (1983). Proses Belajar-Mengajar. Bandung: Tarsito.

Sudiyono, Anas. (1998). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (1997). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Yusufhadi Miarso. (1984). Teknologi Komunikasi Pendidikan, Pengertian dan Pengem-bangannya, Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar